Cara Membuat Skincare Routine dalam Satu Brand
Bayangkan seorang konsumen berdiri di depan lima produk dari brand yang sama. Kemasannya terlihat serasi, tetapi ia masih harus menebak: produk mana yang dipakai lebih dahulu, mana yang digunakan pagi hari, dan apakah seluruh formulanya aman untuk digunakan dalam satu rutinitas.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa memiliki banyak produk belum tentu sama dengan memiliki skincare routine.
Sebuah brand dapat menjual cleanser, toner, serum, moisturizer, dan sunscreen, tetapi kelimanya baru menjadi satu rutinitas ketika mempunyai target pengguna, tujuan, urutan pemakaian, pengalaman, dan hubungan formula yang jelas.
Skincare routine dalam satu brand adalah sistem produk perawatan kulit yang dirancang untuk digunakan secara berurutan oleh kelompok konsumen tertentu guna membantu menjawab kebutuhan kulit yang sama atau saling berkaitan.
Bagi founder, membangun rutinitas bukan sekadar menambah SKU. Brand perlu merancang perjalanan konsumen dari langkah pertama hingga terakhir.
Table of Contents
ToggleMengapa Brand Perlu Memiliki Skincare Routine?
Skincare routine membantu konsumen memahami produk apa yang digunakan, kapan menggunakannya, dan alasan setiap langkah diperlukan.
Dari sisi bisnis, rangkaian yang terarah juga dapat:
- Memperjelas positioning brand
- Meningkatkan potensi pembelian silang
- Memudahkan penjualan dalam bentuk bundle
- Mendorong pembelian ulang
- Meningkatkan nilai transaksi
- Membuat komunikasi pemasaran lebih konsisten
- Menjadi dasar pengembangan produk berikutnya
Namun, brand tidak harus langsung membuat rutinitas dengan tujuh atau sepuluh langkah. Untuk konsumen yang menginginkan kepraktisan, tiga produk dengan fungsi jelas dapat lebih bernilai daripada rangkaian panjang yang membingungkan.
Cedefindo menjelaskan bahwa product line skincare bukan sekadar kumpulan SKU. Setiap produk perlu mempunyai peran dalam rutinitas konsumen dan strategi bisnis brand. Banyak brand baru dapat memulai dari satu hero product atau satu hingga tiga produk, kemudian berkembang berdasarkan respons pasar.
Perbedaan Kumpulan Produk dan Skincare Routine
| Kumpulan produk | Skincare routine terarah |
|---|---|
| Dibuat berdasarkan tren berbeda | Dikembangkan dari satu target konsumen |
| Hubungan antarproduk tidak jelas | Setiap produk mempunyai fungsi tertentu |
| Formula dinilai secara terpisah | Penggunaan bersama turut dievaluasi |
| Konsumen menentukan urutannya sendiri | Brand memberikan petunjuk pemakaian |
| Setiap produk memiliki cerita berbeda | Semua produk mendukung satu positioning |
| SKU bertambah secara reaktif | Produk berkembang berdasarkan roadmap |
Rangkaian yang baik tidak memaksa konsumen membeli semuanya. Sebaliknya, brand memberikan pilihan rutinitas dasar dan lanjutan sesuai kebutuhan.
Cara Membuat Skincare Routine dalam Satu Brand
1. Mulai dari satu target konsumen
Jangan memulai dengan daftar produk. Mulailah dengan menentukan siapa yang akan menggunakan rutinitas tersebut.
Target “semua orang yang ingin kulit sehat” terlalu luas. Rumusan yang lebih operasional misalnya:
Profesional urban berusia 25–35 tahun yang memiliki kulit berminyak tetapi mudah mengalami dehidrasi dan menginginkan rutinitas praktis.
Target tersebut membantu founder menentukan jumlah langkah, tekstur, tingkat harga, desain kemasan, cara komunikasi, dan kanal penjualan.
Membuat skincare sesuai target market berarti menerjemahkan kebutuhan konsumen menjadi keputusan mengenai manfaat, formula, tekstur, sensori, kemasan, harga, klaim, serta komunikasi.
2. Tentukan satu kebutuhan utama
Satu rutinitas sebaiknya memiliki wilayah kebutuhan yang mudah dipahami, seperti:
- Menjaga hidrasi kulit
- Mendukung perawatan skin barrier
- Merawat kulit rentan berjerawat
- Membantu menjaga tampilan kulit cerah
- Menenangkan kulit sensitif
- Mendukung healthy aging
- Memberikan perlindungan harian
- Menyederhanakan perawatan kulit
Tidak semua masalah harus dimasukkan ke dalam satu rangkaian. Jika brand menggabungkan acne care, brightening, exfoliating, dan anti-aging tanpa prioritas yang jelas, komunikasi serta konsep formula dapat kehilangan fokus.
3. Tentukan hasil yang dijanjikan secara realistis
Brand perlu menjelaskan apa yang diharapkan konsumen dari rangkaian tersebut tanpa menggunakan janji berlebihan.
Contohnya:
“Rutinitas tiga langkah dengan tekstur ringan untuk membantu membersihkan, menjaga hidrasi, dan melindungi kulit profesional urban.”
Pernyataan tersebut lebih terarah daripada klaim, “Rangkaian untuk menyelesaikan semua masalah kulit.”
Setiap manfaat dan klaim harus disesuaikan dengan formula, pengujian, ketentuan label, dan ruang lingkup kosmetik.
4. Pilih jumlah langkah yang sesuai
Panjang rutinitas harus mengikuti kebiasaan target konsumen.
| Tipe rutinitas | Susunan produk | Target yang sesuai |
|---|---|---|
| Rutinitas dasar | Cleanser, moisturizer, sunscreen | Pemula dan konsumen praktis |
| Rutinitas fokus | Cleanser, serum, moisturizer, sunscreen | Konsumen dengan kebutuhan tertentu |
| Rutinitas lengkap | Cleanser, toner, serum, moisturizer, sunscreen | Konsumen yang terbiasa memakai skincare |
| Rutinitas intensif | Rangkaian dasar ditambah treatment | Konsumen dengan kebutuhan lebih khusus |
Toner, essence, ampoule, eye cream, atau masker tidak wajib berada di semua product line. Produk tambahan perlu mempunyai fungsi yang tidak sekadar mengulang manfaat produk lain.
5. Tentukan peran setiap produk
Setiap SKU perlu menjawab pertanyaan: “Apa pekerjaannya dalam rutinitas?”
- Cleanser: menjadi langkah awal untuk membersihkan kulit.
- Toner atau essence: memberikan fungsi persiapan atau hidrasi tambahan.
- Serum: menjadi treatment yang lebih terarah.
- Moisturizer: membantu menjaga kelembapan dan kenyamanan kulit.
- Sunscreen: menjadi langkah perlindungan pada rutinitas pagi.
- Spot treatment: digunakan pada area atau kebutuhan khusus.
- Masker: memberikan pengalaman perawatan tambahan.
Cedefindo juga menyarankan agar product line mempunyai satu cerita dan target yang jelas. Brand tidak perlu membuat serum, acne gel, moisturizer, dan sunscreen hanya karena seluruh kategori tersebut sedang populer.
6. Bedakan rutinitas pagi dan malam
Produk dalam satu brand tidak selalu harus digunakan bersamaan.
Contoh rutinitas pagi:
Gentle Cleanser → Hydrating Serum → Lightweight Moisturizer → Sunscreen
Contoh rutinitas malam:
Gentle Cleanser → Barrier Serum → Moisturizer
Contoh rutinitas mingguan:
Cleanser → Exfoliating Product → Moisturizer
Brand harus mencantumkan frekuensi, urutan, jumlah pemakaian, serta peringatan yang relevan. Petunjuk seperti “gunakan secukupnya” sering kali terlalu umum. Konsumen membutuhkan instruksi yang praktis dan mudah diikuti.
7. Bangun benang merah formula dan sensori
Menggunakan warna kemasan yang sama belum cukup membuat produk terasa sebagai satu rangkaian.
Benang merah dapat dibangun melalui:
- Filosofi formulasi
- Karakter tekstur
- Tingkat aroma
- Kecepatan penyerapan
- Hasil akhir pada kulit
- Kemudahan layering
- Pendekatan terhadap bahan aktif
- Pengalaman saat membuka dan menggunakan kemasan
Brand dengan positioning lightweight skincare sebaiknya menjaga agar cleanser, serum, dan moisturizer mempunyai pengalaman yang mendukung konsep ringan tersebut.
Konsistensi tidak berarti semua produk harus menggunakan hero ingredient yang sama. Formula setiap produk harus disesuaikan dengan fungsi, stabilitas, pH, sistem pengawet, sensori, dan kebutuhan penggunaannya.
8. Evaluasi kompatibilitas dalam satu rutinitas
Setiap formula mungkin bekerja dengan baik saat diuji sendiri, tetapi pengalaman dapat berubah ketika beberapa produk dilapiskan.
Brand perlu mengevaluasi:
- Apakah produk mudah diratakan?
- Apakah terjadi rasa terlalu lengket?
- Apakah lapisan produk menggumpal atau pilling?
- Apakah aroma antaproduk terlalu kuat?
- Apakah hasil akhir terasa terlalu berat?
- Apakah petunjuk pemakaian bahan aktif mudah dipahami?
- Apakah kemasan menjaga stabilitas dan kebersihan produk?
- Apakah sunscreen dapat diaplikasikan setelah produk sebelumnya?
Pada tahap prototype, evaluasi tidak hanya perlu mencakup tekstur, aroma, daya serap, dan after-feel, tetapi juga bagaimana produk digunakan bersama produk lain dalam rutinitas.
9. Pilih hero product sebagai pusat rutinitas
Hero product adalah produk yang paling kuat mewakili manfaat dan positioning brand.
Untuk brand skin barrier, hero product dapat berupa moisturizer. Produk lain kemudian dibangun untuk mendukungnya:
Gentle Cleanser → Hydrating Serum → Barrier Moisturizer → Sunscreen
Hero product memudahkan konsumen menemukan pintu masuk ke dalam brand. Mereka dapat mencoba satu produk terlebih dahulu sebelum beralih ke rutinitas yang lebih lengkap.
Produk utama juga membantu brand memusatkan anggaran, komunikasi, sampling, dan validasi pasar sebelum memperbanyak SKU.
10. Buat product brief untuk setiap SKU
Walaupun berada dalam satu rangkaian, setiap produk tetap memerlukan product brief tersendiri.
Product brief sebaiknya mencakup:
- Target konsumen
- Masalah atau kebutuhan utama
- Peran produk dalam rutinitas
- Manfaat
- Hero concept
- Tekstur dan sensori
- Waktu serta urutan pemakaian
- Produk yang digunakan sebelum dan sesudahnya
- Kemasan
- Target harga pokok
- Harga jual
- Klaim
- Produk pembanding
- Hubungan dengan SKU lain
Dengan brief tersebut, tim pengembangan tidak hanya membuat beberapa produk, tetapi membangun sebuah sistem penggunaan.
Contoh Skincare Routine dalam Satu Brand
Misalnya, sebuah brand ditujukan untuk pekerja urban dengan kulit berminyak dan dehidrasi.
| Produk | Peran | Pengalaman yang dirancang |
|---|---|---|
| Low-Foam Daily Cleanser | Entry product | Membersihkan tanpa sensasi terlalu kesat |
| Hydration Prep Essence | Support product | Hidrasi ringan sebelum treatment |
| Urban Hydration Serum | Hero product | Treatment hidrasi dengan tekstur ringan |
| Lightweight Gel Moisturizer | Retention product | Menjaga kenyamanan tanpa terasa berat |
| Daily UV Protection | Protection product | Menyelesaikan rutinitas pagi |
Kelima produk tersebut melayani konsumen yang sama, menjawab kebutuhan yang berkaitan, dan membentuk pengalaman yang konsisten.
Brand tetap dapat meluncurkannya secara bertahap. Misalnya, mulai dari serum, moisturizer, dan sunscreen, kemudian menambahkan cleanser serta essence setelah permintaan pasar tervalidasi.
Mengembangkan Skincare Routine Bersama Cedefindo
Founder membawa pemahaman tentang target market, consumer insight, positioning, prioritas produk, dan model bisnis. PT Cedefindo dapat membantu menerjemahkan arah tersebut menjadi produk yang dapat dikembangkan dan diproduksi secara terstruktur.
Alur pengembangannya dapat mencakup:
Consumer Insight → Routine Architecture → Product Brief → R&D → Prototype → Evaluasi Layering → Pengujian → Packaging → Regulatory → Produksi
Sebagai bagian dari Martha Tilaar Group, Cedefindo memiliki dukungan R&D, Quality Assurance, Quality Control, serta kemampuan manufaktur untuk berbagai kategori skincare, kosmetik, body care, hair care, personal care, dan fragrance sesuai kebutuhan serta ruang lingkup proyek.
Kemampuan tersebut memungkinkan brand mengembangkan rangkaian secara bertahap tanpa harus mendirikan fasilitas produksi sendiri. Namun, Cedefindo bukan pengganti strategi brand. Founder tetap perlu menentukan siapa yang dilayani dan pengalaman seperti apa yang ingin dibangun.
Penutup: Uji Rutinitas dalam 60 Detik
Letakkan seluruh produk di atas meja dan minta seseorang yang sesuai target pasar mengamatinya selama satu menit.
Setelah itu, tanyakan:
- Untuk siapa rangkaian ini dibuat?
- Apa manfaat utamanya?
- Produk mana yang digunakan terlebih dahulu?
- Mana yang dipakai pagi dan malam?
- Apakah semuanya harus dibeli sekaligus?
Jika jawabannya masih membingungkan, brand mungkin baru memiliki kumpulan produk—belum sebuah rutinitas.
Skincare routine yang baik tidak dinilai dari banyaknya botol. Kekuatannya terlihat ketika konsumen dapat memahami, menggunakan, dan menjelaskan kembali sistemnya dengan mudah.
Bersama Cedefindo, sistem tersebut dapat diterjemahkan menjadi formula, sensori, kemasan, pengujian, serta proses produksi yang saling mendukung. Hasil akhirnya bukan hanya rangkaian yang tampak seragam, melainkan pengalaman perawatan yang terasa utuh sejak langkah pertama.
FAQ tentang Skincare Routine dalam Satu Brand
Apakah skincare routine harus menggunakan satu brand?
Tidak. Konsumen dapat menggunakan produk dari beberapa brand. Namun, rangkaian satu brand seharusnya dirancang agar urutan, fungsi, dan pengalaman penggunaannya lebih mudah dipahami.
Berapa jumlah produk ideal dalam satu skincare routine?
Tidak ada jumlah yang berlaku untuk semua konsumen. Rutinitas dasar dapat terdiri dari cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Produk lain ditambahkan sesuai kebutuhan.
Apakah toner wajib dalam skincare routine?
Tidak selalu. Toner perlu dimasukkan apabila mempunyai fungsi yang relevan dan tidak hanya mengulang manfaat serum atau moisturizer.
Haruskah semua produk memakai hero ingredient yang sama?
Tidak. Kesatuan rangkaian dapat dibangun melalui kebutuhan konsumen, filosofi formula, manfaat, tekstur, sensori, dan pengalaman—bukan hanya melalui satu bahan yang sama.
Bisakah Cedefindo membantu membuat satu rangkaian skincare?
Ya. Cedefindo dapat mendukung konsultasi konsep, pengembangan formula, prototype, pengujian, pemilihan kemasan, produksi, QA, dan QC sesuai kebutuhan serta ruang lingkup kerja sama.










