Cara Membuat Skincare Sesuai Target Market
Satu sampel moisturizer diberikan kepada tiga orang.
Seorang mahasiswa menyukainya, tetapi menganggap harganya terlalu tinggi. Seorang profesional merasa kemasannya kurang praktis untuk dibawa. Sementara itu, konsumen dengan kulit sensitif tidak berani mencoba karena informasi pada label terasa terlalu rumit.
Produknya sama, tetapi ketiganya memberikan respons berbeda.
Inilah alasan skincare tidak seharusnya dikembangkan untuk “semua orang”. Setiap kelompok konsumen mempunyai masalah, kebiasaan, daya beli, tingkat pengetahuan, serta ekspektasi yang berbeda. Produk yang dianggap ideal oleh satu kelompok belum tentu relevan bagi kelompok lain.
Cara membuat skincare sesuai target market adalah dengan menerjemahkan kebutuhan kelompok konsumen tertentu menjadi keputusan produk—mulai dari manfaat, formula, tekstur, sensori, kemasan, harga, klaim, komunikasi, hingga kanal penjualan.
Target market bukan hanya data usia atau jenis kelamin. Target market harus menjadi dasar pengembangan produk.
Table of Contents
ToggleApa Itu Target Market Skincare?
Target market skincare adalah kelompok konsumen yang paling mungkin membutuhkan, membeli, menggunakan, dan melakukan pembelian ulang terhadap suatu produk perawatan kulit.
Target tersebut dapat ditentukan melalui lima dimensi:
| Dimensi | Pertanyaan utama |
|---|---|
| Demografis | Berapa usia, pendapatan, dan tahap kehidupannya? |
| Geografis | Di mana mereka tinggal dan seperti apa lingkungannya? |
| Psikografis | Nilai, aspirasi, dan gaya hidup apa yang penting? |
| Perilaku | Bagaimana mereka mencari, membeli, dan memakai skincare? |
| Kebutuhan | Masalah apa yang paling ingin mereka selesaikan? |
Contohnya, “perempuan usia 18–35 tahun” masih terlalu luas. Seorang mahasiswi berusia 19 tahun dapat mempunyai kebutuhan, pengeluaran, dan kebiasaan berbeda dari profesional berusia 32 tahun.
Target yang lebih operasional dapat berbunyi:
Profesional urban usia 25–35 tahun yang bekerja di ruangan ber-AC, memiliki kulit berminyak tetapi terasa dehidrasi, menjalankan rutinitas padat, dan mencari pelembap ringan pada kategori affordable premium.
Semakin jelas targetnya, semakin mudah menentukan formula, kemasan, harga, dan komunikasi.
Mengapa Target Market Harus Ditentukan Sebelum Formula?
Kesalahan yang sering dilakukan calon founder adalah menentukan bahan aktif terlebih dahulu, kemudian mencari konsumen yang mungkin tertarik.
Contohnya:
“Saya ingin membuat serum niacinamide karena sedang populer.”
Pendekatan yang lebih kuat dimulai dengan:
“Konsumen seperti apa yang ingin dibantu, masalah apa yang dialaminya, dan mengapa produk yang tersedia belum memuaskan?”
Jawaban tersebut akan memengaruhi:
- Kategori produk
- Manfaat utama
- Hero concept
- Sistem formula
- Tekstur dan sensori
- Cara penggunaan
- Volume produk
- Jenis kemasan
- Klaim dan edukasi
- Rentang harga
- Kanal distribusi
- Strategi peluncuran
Cedefindo menempatkan consumer insight dan market research sebelum keputusan formula, kemasan, harga, dan komunikasi. Insight yang telah divalidasi kemudian dapat diterjemahkan menjadi formula, sampel, spesifikasi, dan proses produksi yang realistis.
Cara Membuat Skincare Sesuai Target Market
1. Identifikasi masalah nyata konsumen
Jangan hanya mengandalkan asumsi founder. Temukan masalah melalui wawancara, ulasan marketplace, komentar media sosial, forum, data pencarian, survei, pertanyaan pelanggan, atau observasi penggunaan produk.
Masalah skincare tidak selalu berupa kondisi kulit. Masalah juga dapat berbentuk:
- Produk terasa terlalu lengket
- Rutinitas terlalu panjang
- Informasi kandungan sulit dipahami
- Produk menggumpal saat digunakan bersama sunscreen
- Kemasan sulit digunakan hingga isinya habis
- Konsumen takut mencoba bahan aktif
- Ukuran produk tidak praktis
- Harga tidak sebanding dengan pengalaman
- Konsumen kesulitan memilih produk yang sesuai
Carilah masalah yang berulang, cukup penting, dan belum diselesaikan secara memuaskan oleh kompetitor.
2. Pelajari situasi penggunaannya
Produk digunakan dalam kehidupan nyata, bukan hanya di meja laboratorium. Karena itu, pahami kapan, di mana, dan bagaimana konsumen memakai skincare.
Tanyakan:
- Apakah produk digunakan pagi atau malam?
- Berapa banyak waktu yang tersedia?
- Apakah konsumen memakai makeup?
- Apakah produk digunakan dalam ruangan ber-AC?
- Apakah konsumen sering bepergian?
- Berapa banyak langkah dalam rutinitasnya?
- Produk apa yang digunakan sebelum dan sesudahnya?
- Apakah mereka menyukai aroma?
- Apakah mereka membaca ingredient list?
Situasi penggunaan dapat membuka peluang produk yang lebih relevan daripada sekadar mengikuti bahan viral.
3. Tentukan manfaat utama
Satu produk dapat memiliki beberapa manfaat, tetapi sebaiknya mempunyai satu manfaat utama yang mudah dipahami.
Misalnya:
- Moisturizer: membantu menjaga kelembapan
- Facial wash: membersihkan dengan pengalaman yang nyaman
- Toner: memberikan hidrasi ringan sebagai tahap persiapan
- Serum: memberikan perawatan terarah sesuai konsep
- Sunscreen: membantu melindungi kulit dari paparan sinar UV sesuai klaim yang terbukti
Manfaat pendukung dapat ditambahkan selama tidak membuat positioning kehilangan fokus. Produk yang menjanjikan terlalu banyak hal cenderung sulit dipercaya dan sulit dijelaskan.
4. Pilih kategori dan format yang relevan
Masalah hidrasi tidak selalu harus dijawab melalui serum. Tergantung kebiasaan target market, solusi dapat berupa toner, essence, gel moisturizer, sheet mask, atau produk multifungsi.
Pertimbangkan:
- Apakah target konsumen memahami kategori tersebut?
- Apakah produk sesuai rutinitas mereka?
- Apakah ada ruang dalam anggaran belanja mereka?
- Apakah formatnya praktis?
- Apakah produk dapat mendorong pembelian ulang?
- Apakah kategori tersebut terlalu padat oleh kompetitor?
Brand baru tidak perlu langsung membuat seluruh rangkaian. Lebih kuat jika memulai dari satu hero product yang paling jelas mewakili kebutuhan target market. Cedefindo juga menekankan bahwa rangkaian produk sebaiknya mempunyai satu cerita dan konsumen yang jelas, bukan sekadar kumpulan kategori yang sedang populer.
5. Terjemahkan target ke dalam formula
Target market tidak menentukan formula secara otomatis, tetapi memberikan parameter kepada tim R&D.
Contohnya:
| Target market | Implikasi pengembangan |
|---|---|
| Remaja pemula | Manfaat mudah dipahami, tekstur ringan, cara pakai sederhana |
| Profesional urban | Praktis, cepat menyerap, mudah digunakan sebelum makeup |
| Konsumen kulit sensitif | Konsep formula dan komunikasi perlu lebih disiplin |
| Konsumen premium | Sensori, formula, kemasan, dan pelayanan harus selaras |
| Pria pemula | Rutinitas ringkas dan informasi penggunaan yang jelas |
| Konsumen aktif | Kemasan praktis, mudah dibawa, tidak merepotkan |
| Konsumen sadar lingkungan | Material, sourcing, klaim, dan sistem bisnis perlu konsisten |
Founder tidak harus menentukan persentase bahan sendiri. Tim R&D perlu mengevaluasi fungsi bahan, keamanan, stabilitas, kompatibilitas, pH, tekstur, kemasan, dan regulasi.
Dalam pengembangan bersama Cedefindo, founder dapat memulai dari target konsumen, masalah kulit, manfaat, hero concept, pengalaman sensoris, positioning, kemasan, dan target harga.
6. Sesuaikan tekstur dan sensori
Konsumen membeli manfaat, tetapi mereka menggunakan tekstur setiap hari. Pengalaman inilah yang sering menentukan apakah produk akan dipakai sampai habis dan dibeli kembali.
Evaluasi karakter seperti:
- Watery, gel, lotion, cream, balm, atau foam
- Ringan atau rich
- Cepat menyerap atau membentuk lapisan
- Matte, natural, satin, atau dewy finish
- Tingkat kelengketan
- Aroma dan intensitasnya
- Daya sebar
- After-feel
- Kemudahan layering
Produk untuk profesional yang terburu-buru mungkin membutuhkan tekstur cepat menyerap. Konsumen premium mungkin mengharapkan sensori yang lebih khas. Konsumen pemula memerlukan pengalaman yang mudah dan tidak mengintimidasi.
7. Pilih hero ingredient secara strategis
Hero ingredient sebaiknya dipilih setelah target, masalah, dan manfaat ditetapkan.
Jangan memasukkan bahan hanya karena populer. Tanyakan:
- Apakah bahan relevan dengan manfaat utama?
- Apakah mudah dipahami target konsumen?
- Apakah sesuai dengan format produk?
- Apakah dapat diformulasikan secara stabil?
- Apakah mendukung positioning?
- Apakah biaya dan pasokannya realistis?
- Apakah klaimnya dapat dipertanggungjawabkan?
Nama bahan dapat menarik perhatian, tetapi konsumen menggunakan keseluruhan formula. Hero ingredient harus ditempatkan sebagai bagian dari formula, bukan menggantikan fungsi formula.
8. Sesuaikan packaging dengan perilaku target
Packaging bukan hanya pembungkus. Kemasan memengaruhi perlindungan formula, dosis, kebersihan, kemudahan penggunaan, distribusi, dan persepsi harga.
Contohnya:
- Konsumen aktif mungkin membutuhkan kemasan anti-bocor
- Konsumen pemula membutuhkan informasi yang mudah dibaca
- Produk yang sensitif terhadap udara dapat membutuhkan sistem yang lebih protektif
- Konsumen premium mengharapkan pengalaman membuka produk yang lebih baik
- Konsumen mass market membutuhkan keseimbangan antara fungsi dan biaya
- Pengguna dengan mobilitas tinggi dapat membutuhkan ukuran ringkas
Kemasan harus kompatibel dengan formula dan sesuai dengan target harga. Dalam pengembangan kosmetik bersama Cedefindo, target konsumen, positioning, bentuk produk, kemasan, dan harga dapat dibahas sejak penyusunan product brief.
9. Tentukan harga berdasarkan daya beli dan model bisnis
Harga tidak boleh ditentukan hanya dengan melihat kompetitor. Founder perlu memperhitungkan:
- Harga yang dapat diterima target konsumen
- HPP produk
- Kemasan
- Biaya legalitas dan pengujian
- Margin distributor atau reseller
- Biaya marketplace
- Promosi dan sampling
- Logistik
- Pajak
- Margin bisnis
- Modal kerja untuk produksi ulang
Target market remaja mungkin membutuhkan ukuran dan harga yang lebih terjangkau. Produk premium memerlukan pengalaman yang membenarkan harganya—bukan sekadar kemasan mengilap.
Formula, packaging, MOQ, HPP, margin, dan harga retail perlu dipikirkan sebagai satu kesatuan.
10. Sesuaikan komunikasi dan edukasi
Produk untuk konsumen pemula tidak seharusnya menggunakan bahasa yang terlalu teknis tanpa penjelasan. Sebaliknya, brand berbasis sains perlu memberikan informasi yang disiplin dan dapat dipercaya.
Sesuaikan:
- Nama produk
- Manfaat pada bagian depan kemasan
- Petunjuk penggunaan
- Tone of voice
- Tingkat kedalaman edukasi
- Foto dan video
- Pemilihan creator
- Kanal komunikasi
- Customer service
- Pertanyaan yang dijawab dalam FAQ
Target market harus dapat merasa, “Produk ini dibuat untuk kebutuhan saya,” tanpa harus membaca seluruh halaman penjualan.
Contoh Product Brief Skincare Berdasarkan Target Market
Nama proyek: Urban Hydration Gel
Target konsumen: Profesional urban usia 25–35 tahun
Kondisi kulit: Berminyak tetapi terasa dehidrasi
Situasi: Bekerja di ruangan ber-AC dan menggunakan sunscreen atau makeup
Masalah: Moisturizer terasa berat dan membuat rutinitas pagi tidak nyaman
Manfaat utama: Membantu menjaga hidrasi dan kenyamanan kulit
Hero concept: Lightweight daily hydration
Tekstur: Watery gel, mudah diratakan, cepat menyerap
After-feel: Tidak terlalu lengket atau berminyak
Penggunaan: Pagi dan malam
Packaging: Airless pump yang praktis
Positioning: Affordable premium
Target harga: Rp150.000–Rp200.000
Kanal: Marketplace, website, dan social commerce
Perbedaan: Hidrasi praktis yang dirancang untuk rutinitas urban
Catatan: Formula, bahan, klaim, dan kemasan final mengikuti evaluasi R&D serta ketentuan yang berlaku
Product brief membantu menerjemahkan target market menjadi arahan yang dapat dibahas bersama tim formulasi, packaging, regulatory, produksi, dan pemasaran.
Validasi Sebelum Produksi
Sebelum produksi dalam jumlah besar, uji konsep dan sampel kepada orang yang benar-benar mewakili target market.
Tanyakan:
- Menurut Anda, produk ini dibuat untuk siapa?
- Masalah apa yang ingin dibantu?
- Apakah manfaatnya mudah dipahami?
- Apakah teksturnya sesuai dengan rutinitas Anda?
- Apa yang disukai dan tidak disukai?
- Apakah kemasannya praktis?
- Apakah harganya masuk akal?
- Produk apa yang mungkin digantikannya?
- Apakah Anda bersedia membelinya?
- Apa yang membuat Anda ingin atau tidak ingin membeli ulang?
Validasi ide berarti menguji apakah masalahnya nyata, targetnya jelas, solusinya relevan, dan konsumen bersedia membeli sebelum produksi besar dilakukan.
Peran Cedefindo dalam Pengembangan Skincare
Founder membawa pemahaman tentang target market, kebutuhan konsumen, positioning, dan model bisnis. Cedefindo membantu menilai bagaimana strategi tersebut dapat diterjemahkan menjadi produk yang realistis.
Alur pengembangannya dapat mencakup:
Target Market → Consumer Insight → Product Concept → Product Brief → R&D → Prototype → Evaluasi → Testing → Packaging → Regulatory → Produksi
Sebagai bagian dari Martha Tilaar Group, PT Cedefindo didukung oleh Research and Development, Quality Assurance, Quality Control, serta fasilitas manufaktur untuk pengembangan skincare dan kategori beauty lainnya sesuai kebutuhan serta ruang lingkup proyek.
Perusahaan maklon tidak menggantikan tugas founder dalam memahami pasar. Namun, mitra yang tepat dapat membantu menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi formula, sampel, kemasan, spesifikasi, mutu, dan proses produksi yang terarah.
Penutup: Sisakan Satu Kursi untuk Konsumen
Ketika rapat pengembangan berlangsung, biasanya ada banyak suara di dalam ruangan: founder, marketing, desainer, tim keuangan, tim R&D, dan manufaktur. Masing-masing membawa kepentingannya.
Founder menginginkan produk berbeda. Marketing menginginkan manfaat yang mudah dijual. Desainer menginginkan kemasan menarik. Tim keuangan menginginkan biaya terkendali. R&D menginginkan formula yang aman, stabil, dan realistis untuk diproduksi.
Namun, sisakan satu kursi untuk orang yang tidak hadir: konsumen.
Tanyakan pada setiap keputusan:
Apakah ini benar-benar memudahkan hidup target market, atau hanya memenuhi selera internal tim?
Skincare yang relevan tidak harus mempunyai bahan paling banyak, kemasan paling mewah, atau klaim paling keras. Produk tersebut harus memahami siapa penggunanya, kapan digunakan, masalah yang dirasakan, pengalaman yang diharapkan, dan harga yang dapat diterima.
Ketika target market hadir dalam setiap keputusan—dari formula hingga layanan pelanggan—produk tidak lagi terasa seperti skincare yang kebetulan dijual kepada mereka. Produk akan terasa seperti memang dibuat untuk mereka.
FAQ tentang Skincare dan Target Market
Apakah skincare harus dibuat untuk satu kelompok konsumen saja?
Satu produk dapat digunakan beberapa kelompok, tetapi pengembangannya tetap membutuhkan target utama agar formula, manfaat, harga, dan komunikasi mempunyai arah yang jelas.
Apakah usia cukup untuk menentukan target market skincare?
Tidak. Usia perlu dilengkapi dengan kondisi kulit, gaya hidup, perilaku, kebutuhan, daya beli, lingkungan, dan tingkat pemahaman skincare.
Mana yang lebih dahulu, target market atau formula?
Target market dan masalah konsumen sebaiknya ditentukan sebelum formula agar pengembangan produk mempunyai tujuan yang jelas.
Apakah bahan aktif harus dipilih berdasarkan tren target market?
Tidak. Tren dapat menjadi masukan, tetapi bahan perlu dipilih berdasarkan manfaat yang dibutuhkan, kelayakan formula, keamanan, stabilitas, biaya, regulasi, dan positioning.
Bisakah Cedefindo membantu mengembangkan skincare sesuai target konsumen?
Cedefindo dapat membantu menerjemahkan konsep dan product brief menjadi formula, prototype, evaluasi sensori, kemasan, pengujian, produksi, dan pengendalian mutu sesuai kebutuhan proyek.










