• Home
  • About Us
  • Capabilities
  • Services
  • News
  • Contact Us
  • Member

Beautypreneur Masa Depan Tidak Harus Berasal dari Industri Beauty

Agustus 26, 2026

Table of Contents

Toggle
    • Mengapa psikologi, science, entrepreneurship, dan pemahaman terhadap manusia akan semakin penting dalam membangun beauty brand masa depan
  • Mengapa Mahasiswa Psikologi Relevan dengan Beauty Industry?
  • Jangan Mulai dari Produk, Mulailah dari Masalah
  • Passion Membutuhkan Science dan Execution
  • Cedefindo: Ketika Ide Bertemu Kemampuan Industri
  • Beauty Industry Membutuhkan Lebih Banyak Perspektif
  • Dari Consumer Menjadi Creator
  • Indonesia Membutuhkan Generasi Baru Beautypreneur
  • Nyalakan Passion, Kemudian Ubah Menjadi Aksi

Mengapa psikologi, science, entrepreneurship, dan pemahaman terhadap manusia akan semakin penting dalam membangun beauty brand masa depan

Oleh Dr. Kilala Tilaar

Ketika berbicara tentang industri kecantikan, kita sering membayangkan scientist di laboratorium, formulator yang mengembangkan produk, atau entrepreneur yang membangun sebuah brand.

Namun ada satu elemen yang menurut saya sama pentingnya: memahami manusia.

Mengapa seseorang memilih sebuah produk?

Mengapa konsumen mempercayai satu brand tetapi tidak brand lainnya?

Bagaimana persepsi mengenai kecantikan terbentuk?

Apa yang membuat seseorang merasa lebih percaya diri?

Dan mengapa kebutuhan konsumen terus berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya melihat bahwa masa depan industri beauty tidak hanya membutuhkan orang-orang yang memahami kosmetik.

Kita membutuhkan orang-orang yang memahami manusia.

Inilah salah satu alasan saya sangat antusias hadir dalam Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead bersama Psychologi ’86 Discovery dari Universitas Gadjah Mada pada 27 Agustus 2026.

Bersama Dr. Moko Pamungkas, Senior Executive & Business Leader Alumni Psikologi UGM, saya akan bertemu dan berdiskusi dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada mengenai entrepreneurship, industri, serta keberanian mengubah passion menjadi aksi nyata.

Bagi saya, pertemuan ini membawa sebuah pesan penting:

Beautypreneur masa depan dapat lahir dari disiplin ilmu apa pun.

Mengapa Mahasiswa Psikologi Relevan dengan Beauty Industry?

Beauty pada dasarnya merupakan industri yang sangat dekat dengan manusia.

Sebuah moisturizer memang memiliki formulasi.

Lipstick memiliki warna.

Parfum memiliki komposisi aroma.

Namun alasan seseorang memilih dan menggunakan produk tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan, persepsi, identitas, pengalaman, dan perilaku manusia.

Di sinilah psikologi menjadi menarik.

Pemahaman mengenai perilaku manusia dapat membantu entrepreneur memahami bahwa konsumen bukan sekadar angka dalam laporan penjualan.

Di balik setiap transaksi terdapat manusia dengan kebutuhan dan motivasi yang berbeda.

Menurut saya, beauty entrepreneur yang memahami hal tersebut akan memiliki perspektif berbeda ketika membangun sebuah brand.

Mereka tidak memulai dari pertanyaan:

“Produk apa yang sedang viral?”

Mereka memulai dari pertanyaan:

“Masalah manusia apa yang ingin saya selesaikan?”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dapat menentukan apakah sebuah brand hanya mengikuti tren atau benar-benar memiliki alasan untuk hadir.

Jangan Mulai dari Produk, Mulailah dari Masalah

Saya sering melihat entrepreneur muda memiliki semangat yang sangat besar untuk membuat produk.

“Saya ingin membuat serum.”

“Saya ingin mempunyai brand parfum.”

“Saya ingin membuat skincare.”

Tidak ada yang salah dengan ambisi tersebut.

Namun saya ingin generasi baru beautypreneur melangkah satu tahap lebih jauh.

Jangan mulai dari produknya.

Mulailah dari masalah yang ingin diselesaikan.

Amati perubahan konsumen.

Pahami kebutuhan mereka.

Pelajari science di balik masalah tersebut.

Kemudian temukan solusi yang dapat dikembangkan menjadi produk.

Pendekatan seperti inilah yang menurut saya akan membedakan generasi baru beauty entrepreneur dari generasi yang sekadar mengikuti produk yang sedang populer.

Passion Membutuhkan Science dan Execution

Passion merupakan titik awal yang sangat baik.

Tetapi passion saja tidak membangun perusahaan.

Entrepreneur membutuhkan kemampuan menerjemahkan ketertarikan menjadi masalah yang dapat diselesaikan, kemudian mengubah solusi menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

Dalam industri beauty, perjalanan tersebut semakin kompleks.

Sebuah ide harus bertemu dengan research.

Research harus diterjemahkan menjadi formulation.

Formulation harus melewati proses pengembangan dan pengujian.

Produk membutuhkan manufacturing yang mampu menjaga kualitas secara konsisten.

Kemudian entrepreneur harus membangun brand, memahami konsumen, mengembangkan distribusi, dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Karena itu, saya selalu melihat entrepreneurship bukan hanya sebagai keberanian memulai usaha.

Entrepreneurship adalah kemampuan menghubungkan ide, science, manusia, dan execution.

Cedefindo: Ketika Ide Bertemu Kemampuan Industri

Inilah salah satu peran yang ingin terus kami kembangkan melalui PT Cedefindo.

Saya tidak ingin Cedefindo hanya dipandang sebagai tempat memproduksi kosmetik.

Cedefindo perlu menjadi bagian dari ekosistem yang membantu entrepreneur menerjemahkan sebuah gagasan menjadi produk yang dapat diwujudkan.

Seorang mahasiswa mungkin memahami consumer behavior.

Scientist memahami bahan dan mekanisme.

Formulator memahami bagaimana sebuah konsep diterjemahkan menjadi formula.

Manufacturer memahami bagaimana produk dapat dibuat secara konsisten.

Brand owner memahami bagaimana solusi tersebut dikomunikasikan kepada konsumen.

Ketika seluruh kompetensi ini dipertemukan, inovasi dapat terjadi.

Human Insight → Research → Formulation → Manufacturing → Brand → Market

Bagi saya, masa depan contract manufacturing berada di sini.

Manufacturer tidak hanya menerima pesanan produksi.

Manufacturer berkembang menjadi innovation partner yang membantu menghubungkan entrepreneur dengan science, teknologi, formulasi, kualitas, dan kemampuan produksi.

Beauty Industry Membutuhkan Lebih Banyak Perspektif

Saya percaya salah satu kesalahan yang perlu kita hindari adalah membangun industri hanya dengan orang-orang yang memiliki latar belakang sama.

Innovation sering kali muncul ketika disiplin ilmu yang berbeda bertemu.

Bayangkan beauty ecosystem yang mempertemukan:

psychologist yang memahami manusia,

pharmacist yang memahami formulasi,

biologist yang mempelajari biodiversitas,

chemist yang memahami bahan,

engineer yang mengembangkan teknologi,

designer yang memahami pengalaman,

data scientist yang membaca pola,

dan entrepreneur yang mampu menghubungkan semuanya menjadi sebuah bisnis.

Di titik pertemuan seperti inilah saya melihat peluang inovasi yang sangat menarik.

Karena itu, saya ingin mahasiswa tidak membatasi masa depannya hanya berdasarkan nama fakultas yang tertulis pada ijazah.

Ilmu yang kita pelajari adalah fondasi.

Pertanyaannya adalah:

Masalah apa yang ingin kita selesaikan dengan ilmu tersebut?

Dari Consumer Menjadi Creator

Generasi mahasiswa hari ini tumbuh bersama industri beauty yang sangat berbeda dibandingkan dua dekade lalu.

Mereka mengenal produk global sejak usia muda.

Mereka mengikuti perkembangan brand melalui media sosial.

Mereka melihat tren bergerak dalam hitungan hari.

Mereka juga memiliki akses terhadap teknologi dan informasi yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipelajari.

Tetapi saya berharap generasi ini tidak berhenti sebagai consumer of beauty.

Saya ingin melihat lebih banyak dari mereka menjadi creator of beauty innovation.

Menjadi founder.

Menjadi scientist.

Menjadi researcher.

Menjadi innovator.

Menjadi entrepreneur.

Dan suatu hari, menjadi pemimpin perusahaan yang membawa inovasi Indonesia ke dunia.

Indonesia Membutuhkan Generasi Baru Beautypreneur

Indonesia memiliki modal yang sangat besar.

Kita memiliki biodiversitas.

Kita memiliki universitas dan scientist.

Kita memiliki kemampuan manufacturing.

Kita memiliki pasar.

Dan yang paling penting, kita memiliki generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi dan entrepreneurship.

Tantangan berikutnya adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut.

Inilah pemikiran yang berada di balik konsep i-BEAUTY yang terus saya kembangkan: sebuah beauty ecosystem yang mempertemukan innovation, biodiversity, entrepreneurship, advanced manufacturing, usability, technology, dan sustainability.

Saya percaya masa depan industri tidak dibangun oleh satu perusahaan.

Masa depan dibangun ketika universitas, scientist, entrepreneur, manufacturer, pemerintah, investor, dan generasi muda mulai bekerja dalam ekosistem yang sama.

Nyalakan Passion, Kemudian Ubah Menjadi Aksi

Karena itu, ketika saya datang ke Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dalam Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead, saya tidak hanya ingin berbicara mengenai bagaimana membangun sebuah beauty brand.

Saya ingin mengajak mahasiswa memikirkan sesuatu yang lebih besar.

Temukan apa yang membuat Anda penasaran.

Gunakan ilmu yang Anda miliki untuk memahami sebuah masalah.

Pelajari manusia yang ingin Anda bantu.

Cari orang-orang dengan keahlian yang berbeda.

Kemudian berani mengambil langkah pertama untuk mengubah gagasan menjadi sesuatu yang nyata.

Tidak semua mahasiswa yang hadir nanti harus menjadi beauty entrepreneur.

Tetapi mungkin dari ruangan tersebut akan lahir seseorang yang melihat industri beauty dengan cara yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya.

Dan mungkin, 10 atau 20 tahun dari sekarang, ide yang dimulai dari sebuah ruang kuliah di Yogyakarta akan berkembang menjadi inovasi Indonesia yang digunakan oleh konsumen di berbagai negara.

Itulah mengapa saya percaya bahwa investasi terbesar bagi masa depan beauty industry bukan hanya pada teknologi atau fasilitas produksi. Investasi terbesar kita adalah pada manusia yang akan menciptakan inovasi berikutnya.

Saya menantikan pertemuan dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada 27 Agustus 2026.

Mari datang bukan hanya untuk mendengar cerita tentang entrepreneurship.

Datanglah membawa pertanyaan.

Karena sering kali, sebuah perusahaan besar tidak dimulai dari sebuah produk.

Ia dimulai dari seseorang yang cukup penasaran untuk melihat sebuah masalah dengan cara yang berbeda.

Dr. Kilala Tilaar
CEO Martha Tilaar Group

LATEST NEWS

Cara Menentukan Brand Voice Produk Kosmetik dan Contohnya untuk Skincare

September 21, 2026

Apakah Stretch Mark Bisa Hilang Total? Ini Jawaban Jujur dan Pilihan Perawatannya

September 20, 2026

Dari Ceruk Pasar Menjadi Tren: Pelajaran Strategi Brighty bagi Beautypreneur Indonesia

September 20, 2026

Cara Menentukan Brand Purpose dan Brand Personality Kosmetik

September 20, 2026

Cara Membuat Brand Story Kosmetik yang Autentik dan Mudah Diingat

September 20, 2026

Maklon Sheet Mask: Cara Membuat Masker Wajah untuk Brand Skincare Sendiri

September 20, 2026

Maklon Peeling Gel: Cara Membuat Produk Eksfoliasi untuk Brand Skincare Sendiri

September 20, 2026

Kulit Tiba-Tiba Breakout? Jangan Langsung Menyalahkan Satu Produk—Periksa Kebiasaan Ini

September 19, 2026

Cara Memulai Bisnis Hair Care: Dari Menemukan Masalah Pasar sampai Produk Siap Diluncurkan

September 19, 2026

Bahan Skincare yang Tidak Boleh Dipakai Bersamaan? Cek Faktanya Sebelum Memisahkan Semua Produk

September 18, 2026
  • Maklon Parfum
  • Maklon Kosmetik
  • Maklon Skincare

PT CEDEFINDO. Jl. Raya Narogong Km 4.
Bekasi 17116. Jawa Barat, Indonesia

[p] +62 21 8215710
[f] +62 21 8204107

    

Copyright © 2016 PT CEDEFINDO.
All Right Reserved