Dari Arsip ke Laboratorium: Apa Arti HYAS Exhibition bagi Masa Depan Beauty Indonesia?
Lebih dari 350 koleksi makeup, sekitar 200 majalah vintage, dan 100 buku langka dipertemukan dalam satu ruang di HYAS: Makeup Through the Ages. Namun, nilai terbesar pameran ini bukan terletak pada banyaknya benda lama yang dipajang. HYAS menunjukkan bahwa sejarah kecantikan Indonesia dapat menjadi sumber insight untuk memahami konsumen, membangun identitas brand, dan menciptakan inovasi yang relevan bagi generasi berikutnya.
HYAS: Makeup Through the Ages berlangsung pada 3–6 September 2026 di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. Martha Tilaar Group ikut menghadirkan perjalanan industri kecantikan Indonesia melalui sejarah Sariayu—brand yang sejak awal membawa kekayaan alam dan budaya Indonesia ke dalam produk kecantikan.
Dari perspektif PT Cedefindo, perusahaan contract manufacturing kosmetik dalam ekosistem Martha Tilaar Group, pesan HYAS sangat relevan bagi industri hari ini:
Warisan kecantikan tidak seharusnya berhenti sebagai nostalgia. Warisan menjadi berharga ketika diterjemahkan menjadi insight, diuji melalui science, diwujudkan lewat formulasi, dan diproduksi secara konsisten untuk kebutuhan manusia hari ini.
Table of Contents
ToggleApa itu HYAS: Makeup Through the Ages?
HYAS: Makeup Through the Ages adalah pameran pertama di Indonesia yang secara khusus menelusuri sejarah makeup serta hubungannya dengan kecantikan, fashion, dan budaya. Pameran perdananya digagas oleh Sissy Sosro, dengan kurasi, riset, dan penulisan oleh Allysha Nila, arahan kreatif Abraham Dewanggana, serta strategic partnership direction dari Ein Halid.

Menurut ASHTA District 8, kata “hyas” berasal dari bahasa Jawa Kuno dan berkembang dari kata Proto-Western Malayo-Polynesian qias yang berarti perhiasan. Akar katanya juga berkaitan dengan “rias” dan “paes”. Jejak bahasa tersebut memperlihatkan bahwa kecantikan pada masa lalu dipahami secara menyeluruh—menghubungkan makeup, rambut, pakaian, dan perhiasan.
Pameran ini menelusuri tiga fase besar:
- periode kuno;
- masa kolonial;
- periode modern hingga mendekati era Reformasi.
Koleksinya mencakup produk makeup dari berbagai masa, majalah vintage, buku langka, materi komunikasi, serta arsip brand. Salah satu objek tertua adalah face powder dari apotek di Surabaya pada era kolonial, yang diperkirakan berasal dari dekade 1920-an atau lebih awal.
| Fakta HYAS 2026 | Keterangan |
|---|---|
| Nama acara | HYAS: Makeup Through the Ages |
| Lokasi | SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta |
| Tanggal | 3–6 September 2026; dibuka untuk publik 4–6 September |
| Koleksi | Lebih dari 350 objek makeup |
| Materi pendukung | Sekitar 200 majalah vintage dan 100 buku langka |
| Periode riset | Sembilan bulan |
| Rentang cerita | Periode kuno, kolonial, dan modern hingga mendekati Reformasi |
| Peran Martha Tilaar Group | Menghadirkan perspektif perjalanan industri kecantikan, termasuk jejak Sariayu |
Sumber: ASHTA District 8, Luxina, dan Voice of ASEAN.
Mengapa sejarah makeup Indonesia penting?

Makeup tidak pernah hanya berbicara tentang warna yang diaplikasikan pada wajah. Setiap kemasan, nama shade, iklan, ritual, dan cara pemakaian membawa informasi tentang masyarakat pada zamannya.
Arsip kecantikan dapat memperlihatkan:
- bagaimana masyarakat mendefinisikan wajah yang dianggap ideal;
- bagaimana peran perempuan dan identitas sosial berubah;
- bagaimana teknologi produksi serta format kosmetik berkembang;
- bagaimana bahan alam dan pengetahuan tradisional diterjemahkan menjadi produk;
- bagaimana media—dari majalah dan televisi hingga TikTok—mengubah cara orang menemukan tren;
- bagaimana bahasa serta simbol budaya digunakan untuk membangun hubungan dengan konsumen.
Tanpa dokumentasi, generasi baru dapat mengira industri kecantikan Indonesia baru lahir bersama e-commerce dan media sosial. Padahal, jauh sebelum beauty creator, affiliate link, atau live shopping, Indonesia sudah mempunyai ritual, perias, salon, sekolah kecantikan, produsen, distributor, peneliti, dan brand yang membentuk pasarnya.
Arsip membuat industri memahami bahwa tren hari ini mempunyai konteks. Ia membantu kita membedakan mana inovasi baru, mana kebutuhan lama dalam format baru, dan mana unsur masa lalu yang kembali populer tanpa disadari.
Martha Tilaar Group di HYAS: sebuah perjalanan yang dimulai dari ruang kecil
Kehadiran Martha Tilaar Group di HYAS membawa pengunjung pada perjalanan lebih dari lima dekade. Menurut sejarah resmi Martha Tilaar Group, DR. (H.C.) Martha Tilaar memulai usahanya pada 1970 melalui sebuah salon kecantikan di rumah orang tuanya di Menteng, Jakarta.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang:
| Tahun | Tonggak perjalanan |
|---|---|
| 1970 | Martha Tilaar memulai salon kecantikan di Menteng |
| 1972 | Salon kedua dibuka dan perawatan berbasis jamu tradisional mulai dikembangkan |
| 1977 | PT Martina Berto didirikan dan Sariayu diluncurkan |
| 1981 | Fasilitas produksi pertama PT Martina Berto dibangun di kawasan industri Pulogadung |
| 1996 | PT Martina Berto menjadi produsen kosmetik Indonesia pertama yang memperoleh ISO 9001 menurut sejarah resmi grup |
Sariayu menjadi salah satu jejak penting yang tampil di HYAS karena brand ini tumbuh dengan gagasan bahwa alam, budaya, dan kreativitas Indonesia dapat menjadi identitas produk modern.
Penting untuk melihat cerita ini bukan sebagai garis lurus yang selalu mudah. Brand lintas generasi harus berhadapan dengan perubahan selera, teknologi, format media, kompetitor, regulasi, serta standar konsumen. Ketahanan tidak muncul karena usia semata, melainkan karena kemampuan menjaga nilai inti sambil terus memperbarui relevansi.
Legacy dan virality tidak harus saling meniadakan
Salah satu gagasan penting yang muncul dari kehadiran Martha Tilaar Group di HYAS adalah hubungan antara legacy dan virality.
| Legacy | Virality |
|---|---|
| Dibangun melalui konsistensi dalam waktu panjang | Dapat menciptakan perhatian dalam waktu singkat |
| Menyimpan memori, nilai, dan kepercayaan | Memanfaatkan format, momentum, dan jaringan distribusi konten |
| Membutuhkan bukti lintas generasi | Membutuhkan relevansi saat ini |
| Risiko: terasa jauh atau tidak diperbarui | Risiko: cepat dilupakan dan tidak menghasilkan loyalitas |
| Kekuatan terbaik: kedalaman | Kekuatan terbaik: kecepatan |
Brand lama tidak harus menolak budaya viral. Brand baru juga tidak harus membangun identitas tanpa akar. Masalah muncul ketika legacy diperlakukan seperti sertifikat yang tidak boleh disentuh, atau ketika virality dianggap cukup untuk menggantikan kualitas produk.
Virality membuat orang melihat. Legacy memberi alasan untuk percaya. Produk yang relevan memberi alasan untuk kembali membeli.
Bagi brand heritage, tantangannya bukan menjadi muda dengan meniru seluruh bahasa generasi baru. Tantangannya adalah menemukan cara baru untuk membuat nilai lama terasa hidup, berguna, dan dapat diikuti.
Dari heritage menuju I-Beauty

Martha Tilaar Group menggunakan perspektif I-Beauty untuk melihat identitas, kekayaan alam, budaya, dan kreativitas Indonesia sebagai sumber daya saing global. Dalam liputan HYAS, Dr. Kilala Tilaar menegaskan bahwa I-Beauty tidak berhenti pada produk yang dibuat di Indonesia; gagasannya mencakup kemampuan mengubah kekuatan Indonesia menjadi brand yang dapat bersaing.
Perspektif tersebut menjadi semakin konkret ketika dibaca melalui ekosistem industri. Indonesia memiliki:
- biodiversitas dan tradisi pemanfaatan bahan alam;
- peneliti, universitas, dan tenaga formulasi;
- entrepreneur dan komunitas kreatif;
- kemampuan manufaktur;
- pasar domestik yang luas dan beragam;
- budaya digital yang mempercepat penyebaran ide.
Namun, aset tidak otomatis menjadi keunggulan. Bahan alam perlu distandardisasi. Cerita budaya perlu digunakan dengan hormat. Formula perlu aman dan stabil. Klaim membutuhkan bukti. Desain perlu relevan. Produksi harus konsisten. Brand juga harus mempunyai strategi distribusi dan economics yang sehat.
Di titik itulah heritage bertemu industri.
Kerangka WARIS Cedefindo: mengubah sejarah menjadi inovasi produk
PT Cedefindo merangkum proses tersebut melalui Kerangka WARIS. Framework ini membantu brand menggunakan inspirasi budaya tanpa berhenti pada motif kemasan atau storytelling permukaan.
| Elemen | Pertanyaan utama | Hasil yang dicari |
|---|---|---|
| W — Wawasan warisan | Ritual, bahan, arsip, simbol, atau pengetahuan apa yang relevan? | Sumber inspirasi yang mempunyai konteks |
| A — Audiens hari ini | Siapa pengguna modern dan masalah apa yang ingin dibantu? | Relevansi, bukan nostalgia semata |
| R — Riset dan tanggung jawab | Apa bukti fungsi, keamanan, standardisasi, dan batas klaimnya? | Fondasi ilmiah serta penggunaan budaya yang bertanggung jawab |
| I — Inovasi formulasi | Bagaimana insight diterjemahkan menjadi tekstur, warna, aroma, format, dan pengalaman? | Produk yang berbeda sekaligus nyaman digunakan |
| S — Skala dan konsistensi | Bisakah produk diproduksi dengan mutu, pasokan, biaya, dan kualitas batch yang terjaga? | Inovasi yang dapat hidup di pasar |
W — Wawasan warisan
Tahap pertama bukan memilih motif batik untuk kemasan. Brand perlu memahami konteks: dari daerah mana ritual berasal, siapa yang mempraktikkannya, fungsi apa yang dipercaya, bagaimana istilah digunakan, dan apakah ada pihak yang perlu dilibatkan.
Arsip HYAS menunjukkan betapa kaya sumber wawasan tersebut. Kemasan lama dapat memberi petunjuk mengenai aspirasi konsumen. Majalah memperlihatkan bahasa kecantikan suatu masa. Produk menunjukkan teknologi yang tersedia. Ritual memperlihatkan masalah yang berusaha diselesaikan manusia.
A — Audiens hari ini
Tidak semua praktik masa lalu perlu direplikasi secara literal. Konsumen modern mempunyai pola hidup, standar keamanan, preferensi sensorial, serta ekspektasi kenyamanan yang berbeda.
Pertanyaan pentingnya:
- apakah produk digunakan di rumah atau saat bepergian?
- apakah konsumen menyukai rutinitas berlapis atau multifungsi?
- tekstur seperti apa yang nyaman untuk iklim Indonesia?
- bagaimana rentang shade dan warna diterjemahkan secara inklusif?
- manfaat apa yang benar-benar penting, bukan hanya terdengar menarik?
Heritage menjadi relevan ketika menjawab manusia yang hidup sekarang.
R — Riset dan tanggung jawab
Bahan tradisional tidak boleh otomatis disebut efektif hanya karena telah digunakan lama. Sebaliknya, pengetahuan turun-temurun juga tidak layak diambil sebagai dekorasi tanpa memahami pemilik, konteks, dan nilainya.
Riset dapat mencakup identifikasi bahan, standardisasi, keamanan, stabilitas, kompatibilitas, literatur, pengujian formula, serta evaluasi klaim. Bila membawa motif, ritual, atau narasi komunitas tertentu, brand perlu menghindari penyederhanaan dan apropriasi.
I — Inovasi formulasi
Inovasi berarti menerjemahkan insight menjadi pengalaman produk. Satu inspirasi budaya dapat menghasilkan bentuk modern yang berbeda: cleansing balm, serum, cushion, lip product, body care, hair care, fragrance, atau format solid.
Keputusan formulasi mencakup lebih dari bahan utama. Sistem emulsi, pigmen, dispersi, pH, viskositas, fragrance, preservative system, kompatibilitas kemasan, dan sensorial menentukan apakah konsumen akan menikmati produk.
S — Skala dan konsistensi
Produk yang menarik dalam satu sampel laboratorium belum tentu mudah diproduksi dalam jumlah besar. Skala membutuhkan spesifikasi bahan, supplier yang dapat diandalkan, prosedur produksi, quality assurance, quality control, kestabilan, legalitas, serta perencanaan pasokan.
Warisan baru menjadi bagian dari masa depan ketika produk dapat hadir secara aman dan konsisten dari satu batch ke batch berikutnya.
Apa hubungan HYAS dengan PT Cedefindo?
HYAS menampilkan perjalanan Martha Tilaar Group dan Sariayu. PT Cedefindo tidak perlu diklaim sebagai pemilik pameran atau peserta tersendiri untuk mempunyai perspektif yang relevan terhadap cerita tersebut.
Sebagai bagian dari ekosistem Martha Tilaar Group dan perusahaan contract manufacturing sejak 1981, Cedefindo bekerja di wilayah yang menghubungkan ide dengan produk: konsultasi konsep, Research & Development, pengembangan formula, pemilihan bahan, produksi, Quality Assurance, Quality Control, serta pendampingan legalitas sesuai ruang lingkup proyek.
Pameran berbicara mengenai jejak produk setelah ia melewati waktu. Manufaktur berhadapan dengan keputusan sebelum produk itu lahir.
Keduanya terhubung oleh pertanyaan yang sama:
Produk seperti apa yang cukup relevan untuk digunakan hari ini, cukup konsisten untuk dipercaya, dan cukup bermakna untuk diingat di masa depan?
Lima pelajaran HYAS bagi pemilik brand kosmetik
1. Produk adalah artefak budaya masa depan
Kemasan yang sekarang dianggap benda komersial suatu hari dapat menjadi bukti cara generasi ini memahami kecantikan. Karena itu, keputusan mengenai shade, nama produk, klaim, visual, dan bahasa bukan hal netral.
Brand perlu bertanya apakah produk memperluas cara orang melihat dirinya atau justru memperkuat standar yang terlalu sempit.
2. Identitas lebih tahan lama daripada satu tren bahan
Bahan aktif populer dapat membuka pintu discovery, tetapi kompetitor dapat menggunakan bahan serupa. Identitas yang jelas membantu konsumen memahami mengapa produk berasal dari brand tersebut dan bukan brand lain.
Identitas tidak menggantikan performa formula. Keduanya harus bekerja bersama: produk membuktikan janji, sementara identitas memberi konteks pada bukti tersebut.
3. Dokumentasi adalah aset brand
Banyak brand rajin membuat konten tetapi tidak membangun arsip. Simpan product brief, formula milestones, prototipe, kampanye, foto kemasan, cerita pendiri, wawancara pengguna, keputusan desain, penghargaan, dan perubahan visual identity.
Dokumentasi berguna untuk:
- mempertahankan konsistensi saat tim berubah;
- membuat anniversary campaign yang berbobot;
- memperkuat company profile dan investor narrative;
- menyediakan bahan untuk media, museum, peneliti, serta konten;
- membantu generasi berikutnya memahami alasan sebuah keputusan.
4. Relevansi harus diperbarui tanpa menghapus DNA
Brand heritage sering terjebak di dua ekstrem: tidak berubah sama sekali atau mengubah hampir semua hal agar terlihat muda. Pendekatan yang lebih disiplin adalah memetakan elemen inti dan elemen fleksibel.
| Harus dijaga | Dapat diperbarui |
|---|---|
| Nilai dan alasan brand ada | Format konten |
| Prinsip kualitas | Desain kemasan |
| Sudut pandang terhadap konsumen | Kanal distribusi |
| Aset khas yang masih relevan | Kolaborasi dan creator strategy |
| Komitmen terhadap identitas | Tekstur, shade, ukuran, dan format produk |
Tidak semua elemen lama harus dipertahankan. Tidak semua elemen baru harus diikuti. Keputusan perlu kembali pada nilai, audiens, dan bukti pasar.
5. Brand yang ingin menjadi legacy harus membangun sistem
Legacy tidak dibuat oleh satu kampanye anniversary. Ia lahir dari kemampuan mengulangi kualitas, belajar dari pasar, melindungi kekayaan intelektual, mengembangkan manusia, serta menjaga kepercayaan dalam jangka panjang.
Di belakang produk yang bertahan terdapat sistem: R&D, regulatory, supply chain, manufaktur, distribusi, pendidikan, dan regenerasi kepemimpinan.
Dari arsip Sariayu menuju peluang brand generasi baru
Kehadiran arsip Sariayu dalam HYAS memberi pesan yang relevan bagi beautypreneur: brand Indonesia dapat bertumbuh dengan identitas lokal tanpa harus terlihat terjebak pada masa lalu.
Peluangnya bukan meniru Sariayu atau menggunakan simbol budaya yang sama. Peluangnya adalah mempelajari prinsipnya:
- berangkat dari sudut pandang yang dimiliki Indonesia;
- memahami kebutuhan konsumen secara spesifik;
- menghubungkan tradisi dengan teknologi;
- mengubah cerita menjadi pengalaman produk;
- membangun kemampuan agar kualitas dapat dipertahankan.
Brand generasi baru dapat mengeksplorasi complexion untuk variasi warna kulit Indonesia, fragrance dengan narasi tempat, hair care yang memahami kebiasaan lokal, bahan berbasis biodiversitas, atau format praktis bagi gaya hidup urban. Namun, setiap eksplorasi harus melalui riset dan pengembangan yang bertanggung jawab.
Beauty heritage bukan alasan untuk membuat klaim berlebihan
Kata “tradisional”, “alami”, atau “warisan leluhur” sering terdengar meyakinkan. Namun, istilah tersebut bukan bukti otomatis bahwa produk lebih aman atau lebih efektif.
Brand perlu memisahkan empat lapisan komunikasi:
| Lapisan | Pertanyaan |
|---|---|
| Inspirasi | Dari ritual, bahan, tempat, atau arsip apa ide berasal? |
| Formula | Apa yang benar-benar terdapat dalam produk dan bagaimana sistemnya bekerja? |
| Bukti | Pengujian atau literatur apa yang mendukung klaim? |
| Storytelling | Bagaimana konteks disampaikan tanpa menyesatkan atau mengeksploitasi budaya? |
Kredibilitas justru tumbuh ketika brand menyatakan batasnya dengan jelas. Konsumen tidak hanya membutuhkan cerita yang indah, tetapi alasan yang dapat dipercaya.
Mengapa pameran seperti HYAS penting bagi ekosistem beauty Indonesia?
HYAS mempertemukan beberapa dunia yang sering berjalan sendiri-sendiri: arsip, seni, sejarah, fashion, brand, industri, dan publik. Pertemuan ini menciptakan manfaat yang lebih luas.
Bagi konsumen
Pameran membantu konsumen melihat makeup sebagai bagian dari budaya, bukan sekadar daftar produk yang harus dibeli.
Bagi brand
Arsip membuka sumber inspirasi yang lebih dalam dibanding menyalin tren media sosial. Ia juga mengingatkan brand untuk mendokumentasikan perjalanannya sendiri.
Bagi peneliti dan mahasiswa
Objek, majalah, iklan, dan buku menawarkan bahan untuk mempelajari desain, gender, bisnis, komunikasi, teknologi, serta sejarah sosial.
Bagi industri manufaktur
Sejarah produk memperlihatkan evolusi format, bahan, kemasan, kebutuhan, dan ekspektasi konsumen. Informasi ini dapat memperkaya arah inovasi ketika dibaca bersama data dan science modern.
Bagi Indonesia
Dokumentasi memperkuat kemampuan Indonesia menceritakan sejarah beauty-nya dengan suara sendiri. Ini penting bila Indonesia ingin dikenal bukan hanya sebagai pasar kosmetik besar, tetapi sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, bahan, dan inovasi.
Warisan yang hidup harus menciptakan masa depan
Dr. Kilala Tilaar menyampaikan sebuah kalimat singkat dalam konteks HYAS:
“Where we are today is because someone dared to start yesterday.”
Kalimat ini tidak hanya berbicara tentang pendiri pada masa lalu. Ia juga dapat dibaca sebagai tanggung jawab generasi hari ini. Produk, perusahaan, formula, riset, dan dokumentasi yang dibangun sekarang akan menentukan arsip seperti apa yang diwariskan nanti.
Tantangan industri beauty Indonesia bukan kekurangan cerita. Kita mempunyai biodiversitas, ritual, seni, wilayah, bahasa, dan manusia yang sangat beragam. Tantangannya adalah mengolah kekayaan tersebut tanpa menjadi tempelan—menghubungkannya dengan science, usability, teknologi, manufaktur, sustainability, dan entrepreneurship.
Kesimpulan
HYAS: Makeup Through the Ages mengajak publik melihat perjalanan kecantikan Indonesia melalui lebih dari 350 objek makeup, ratusan majalah serta buku, dan arsip brand lintas periode. Kehadiran Martha Tilaar Group dan perjalanan Sariayu memperlihatkan bagaimana alam serta budaya Indonesia telah lama menjadi sumber identitas industri kecantikan.
Dari perspektif PT Cedefindo, pesan terpenting HYAS adalah bahwa heritage perlu bergerak. Gunakan Kerangka WARIS Cedefindo: gali Wawasan warisan, pahami Audiens hari ini, lakukan Riset dan tanggung jawab, terjemahkan melalui Inovasi formulasi, lalu bangun Skala dan konsistensi.
Legacy tidak tercipta karena sebuah brand berusia lama. Legacy tercipta ketika nilai mampu melewati perubahan zaman tanpa kehilangan makna dan produk terus membuktikan alasan untuk dipercaya.
Sebagai bagian dari Martha Tilaar Group dan pelaku contract manufacturing sejak 1981, PT Cedefindo mendukung pemilik brand dalam mengembangkan skincare, makeup, body care, hair care, personal care, dan fragrance—mulai dari konsultasi konsep serta R&D hingga produksi, sistem mutu, dan pendampingan legalitas sesuai ruang lingkup proyek.
Pelajari sejarah industri maklon kosmetik Indonesia, proses produksi kosmetik, dan layanan maklon kosmetik PT Cedefindo.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu HYAS: Makeup Through the Ages?
HYAS: Makeup Through the Ages adalah pameran pertama di Indonesia yang secara khusus mengeksplorasi sejarah makeup serta kaitannya dengan kecantikan, fashion, dan budaya. Pameran perdananya berlangsung di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta, pada 3–6 September 2026.
Apa arti kata HYAS?
Menurut ASHTA District 8, “hyas” berasal dari bahasa Jawa Kuno dan berkembang dari kata qias yang berarti perhiasan. Akar tersebut juga berkaitan dengan kata “rias” dan “paes”, mencerminkan pandangan kecantikan yang menghubungkan makeup, rambut, pakaian, dan perhiasan.
Siapa penggagas HYAS Exhibition?
HYAS digagas oleh Sissy Sosro. Pameran ini dikurasi, diteliti, dan ditulis oleh Allysha Nila, dengan arahan kreatif Abraham Dewanggana serta strategic partnership direction oleh Ein Halid.
Apa saja yang dipamerkan di HYAS 2026?
Pameran menghadirkan lebih dari 350 koleksi makeup, sekitar 200 majalah vintage, dan 100 buku langka. Koleksinya menelusuri kecantikan Indonesia dari periode kuno, kolonial, hingga modern mendekati era Reformasi.
Kapan dan di mana HYAS 2026 berlangsung?
HYAS: Makeup Through the Ages berlangsung pada 3–6 September 2026 di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. Pameran dibuka untuk publik pada 4–6 September 2026.
Apa peran Martha Tilaar Group dalam HYAS?
Martha Tilaar Group ikut menghadirkan perspektif perjalanan industri kecantikan Indonesia selama lebih dari lima dekade. Salah satu jejak yang ditampilkan adalah perjalanan Sariayu dalam mengangkat kekayaan alam serta budaya Indonesia.
Apakah PT Cedefindo menyelenggarakan HYAS?
Tidak ada sumber yang diperiksa untuk artikel ini yang menyatakan PT Cedefindo sebagai penyelenggara HYAS. Cedefindo merupakan bagian dari ekosistem Martha Tilaar Group dan dalam artikel ini memberikan perspektif tentang hubungan heritage, R&D, formulasi, serta manufaktur.
Apa hubungan Sariayu dengan sejarah kecantikan Indonesia?
Sariayu diluncurkan pada 1977 dan berkembang dengan identitas yang mengangkat kekayaan alam serta budaya Indonesia. Perjalanannya menjadi salah satu contoh bagaimana brand lokal membangun relevansi lintas generasi.
Apa itu I-Beauty?
I-Beauty adalah perspektif yang melihat identitas, biodiversitas, budaya, kreativitas, inovasi, manufaktur, dan entrepreneurship Indonesia sebagai kekuatan untuk membangun industri serta brand beauty yang kompetitif.
Apa perbedaan legacy dan virality bagi brand kosmetik?
Virality menciptakan perhatian dengan cepat, sedangkan legacy dibangun melalui konsistensi, kepercayaan, dan relevansi jangka panjang. Brand yang kuat dapat menggunakan virality untuk discovery tanpa mengorbankan identitas dan kualitas yang membangun legacy.
Bagaimana budaya Indonesia dapat digunakan dalam produk kosmetik?
Mulailah dengan riset konteks, pahami konsumen modern, libatkan pihak relevan, evaluasi bahan dan klaim, lalu terjemahkan insight ke formula serta pengalaman produk. Hindari menjadikan simbol budaya sekadar ornamen atau membuat klaim tanpa bukti.
Apa itu Kerangka WARIS Cedefindo?
WARIS adalah framework pengembangan produk yang terdiri dari Wawasan warisan, Audiens hari ini, Riset dan tanggung jawab, Inovasi formulasi, serta Skala dan konsistensi. Tujuannya adalah mengubah heritage menjadi inovasi yang relevan dan dapat diproduksi dengan bertanggung jawab.
Mengapa brand perlu menyimpan arsip?
Arsip menjaga memori organisasi, menjelaskan alasan keputusan, menyediakan bahan untuk media dan penelitian, memperkuat konsistensi identitas, serta membantu generasi berikutnya memahami perjalanan brand.
Bagaimana Cedefindo membantu pemilik brand?
PT Cedefindo mendukung pengembangan berbagai kategori produk melalui konsultasi konsep, R&D, pengembangan formula, manufaktur, Quality Assurance, Quality Control, dan pendampingan legalitas sesuai kebutuhan serta ruang lingkup proyek.
Referensi
- POPMARKET — Martha Tilaar Group Hadir di HYAS Exhibition
- ASHTA District 8 — HYAS: Makeup Through the Ages
- Luxina — HYAS: Makeup Through the Ages, Nostalgia Sejarah Dunia Kecantikan Indonesia
- Voice of ASEAN — Telusuri Jejak Kecantikan di HYAS
- Martha Tilaar Group — Sejarah
- Martha Tilaar Group — Leader Message, Dr. Kilala Tilaar
- PT Cedefindo — Sejarah Industri Maklon Kosmetik Indonesia
- PT Cedefindo — Masa Depan Beauty Indonesia Ketika Science Bertemu Industri










